Berita

Bank BPD Bali Perkuat Dukungan Pembiayaan untuk Industri Lokal Arak dan UMKM

  • 30 Januari 2026
  • Dibaca : 70 Pengunjung

MANGUPURA – Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali terus menunjukkan perannya dalam mendukung penguatan industri lokal, khususnya sektor minuman tradisional khas Bali seperti arak. Dukungan ini diwujudkan melalui fasilitasi pembiayaan, peningkatan kapasitas usaha, serta sinergi dengan kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi di desa dan pariwisata.

Seperti diketahui bersama, Industri arak Bali merupakan bagian dari kekayaan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam beberapa tahun terakhir, industri ini mulai diarahkan untuk berkembang secara lebih terstruktur melalui penguatan aspek legalitas, kualitas produk, serta akses pembiayaan. Peran lembaga keuangan daerah menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan keberlanjutan industri tersebut.

Bank BPD Bali melihat industri arak dan sektor UMKM berbasis lokal sebagai bagian dari ekosistem ekonomi daerah yang memiliki potensi besar untuk tumbuh. Sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali, bank daerah ini aktif memfasilitasi akses permodalan bagi petani dan pelaku usaha arak melalui berbagai produk pembiayaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Langkah ini juga sejalan dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 yang mengatur tata kelola minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali. Regulasi tersebut menjadi dasar penguatan industri arak Bali agar memiliki kepastian hukum, meningkatkan standar produksi, serta memperluas peluang pasar.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menyampaikan bahwa pengembangan minuman beralkohol khas daerah, termasuk arak Bali, memiliki keterkaitan erat dengan sektor pariwisata. Data nasional menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan asing pada periode Januari hingga November 2025 mencapai 13,98 juta kunjungan, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 12,66 juta kunjungan.

Dari total kunjungan tersebut, Provinsi Bali menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 45,6 persen atau setara 6,6 juta kunjungan wisatawan. Kondisi ini menjadikan Bali sebagai pasar strategis bagi produk-produk lokal, termasuk minuman tradisional yang memiliki nilai budaya dan ekonomi.

Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, S.H., M.H., menyampaikan bahwa pihaknya memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk pelaku industri arak tradisional. Bank BPD Bali memandang pembiayaan sebagai instrumen penting untuk mendorong penguatan rantai nilai industri lokal.

“BPD Bali sangat konsen untuk peningkatan kapasitas UMKM. Tentunya dengan kejelasan izin dari Kementerian Perindustrian untuk arak ini, kita akan optimalisasi untuk menumbuhkan sistem ekonomi yang mendukung industri minuman arak,” ujar I Nyoman Sudharma, saat ditemui di sela perayaan hari Arak Bali ke-6, di The Westin Nusa Dua, Kamis 29 Januari 2026. 

Ia menjelaskan bahwa Bank BPD Bali telah menyiapkan berbagai produk pembiayaan untuk mendukung sektor pertanian dan usaha produktif lainnya. Selain KUR, tersedia pula skema kredit lain yang dapat diakses oleh pelaku usaha sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik usahanya.

Dalam konteks industri arak Bali, pembiayaan diarahkan tidak hanya untuk mendukung proses produksi, tetapi juga untuk meningkatkan kapasitas usaha secara menyeluruh, mulai dari pengadaan bahan baku, peralatan produksi, hingga pengemasan dan distribusi produk.

Terkait dukungan pembiayaan bagi petani arak di Bali, Bank BPD Bali mencatat bahwa selama ini pembiayaan masih banyak dilakukan secara perorangan. Namun, dengan semakin tertatanya industri arak melalui dukungan Kementerian Perindustrian dan keberadaan pengelola izin serta pihak penyerap hasil produk atau offtaker, pola pembiayaan diharapkan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.

“Selama ini kita melalui masing-masing masih dengan perorangan. Tapi dengan tentunya ini Dirjen dan juga ada offtaker-nya yang kita utamakan. Jadi offtaker bisa optimalisasi peningkatan kapasitas industri termasuk pembiayaannya,” kata I Nyoman Sudharma.

Keberadaan offtaker dinilai dapat memberikan kepastian pasar bagi petani dan perajin arak, sekaligus mempermudah perbankan dalam menyalurkan pembiayaan karena adanya jaminan serapan produk. Skema ini diharapkan mampu mendorong peningkatan skala usaha dan efisiensi industri arak Bali.

Pada tahun berjalan, Bank BPD Bali menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 9 persen. Nilai tersebut setara dengan hampir Rp2 triliun yang bersumber dari kredit program, baik Kredit Usaha Rakyat maupun kredit usaha perumahan. Pertumbuhan kredit ini didukung oleh berbagai program pembiayaan yang dirancang untuk menjawab kebutuhan sektor riil di Bali.

Dukungan pembiayaan terhadap industri arak Bali juga diarahkan untuk menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas, khususnya di wilayah perdesaan. Dengan adanya legalitas usaha dan akses permodalan, industri arak diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal serta membuka peluang penyerapan tenaga kerja di tingkat desa.

Last Update : 2026-01-30 16:17:27

BPD Bali Highlight

Bank BPD Bali Kucurkan Rp11,46 Miliar Dukung Trickledown Bisnis MBG

Selengkapnya  

Bank BPD Bali Perkuat Dukungan Pembiayaan untuk Industri Lokal Arak dan UMKM

Selengkapnya  

Bank BPD Bali Menerima Penghargaan CSR dari Anggota DPD RI Arya Wedakarna

Selengkapnya  


Copyright © 2021 PT. Bank Pembangunan Daerah Bali. All Rights Reserved.